Rabu, 21 Agustus 2013

Rumah Sakit Tiar Medika Cirebon

Rumah Sakit (RS) merupakan sarana kesehatan umum yang dibutuhkan oleh masyarakat luas dan merupakan kebutuhan pokok dari masyarakat. Disamping itu dalam mendirikan suatu RS diperlukan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan secara professional dalam bidang kesehatan serta memanfaatkan teknologi secara handal dan mengupayakan secara optimal  penggunaanya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarkat.
Tujuan pendirian Rumah Sakit Umum Tiar Medika adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan secara optimal pada masyarakat yang membutuhkan baik bagi kalangan menengah keatas maupun menengah kebawah.dengan lebih mengedepankan sosial kemanusiaan.
Pengajuan proposal perizinan operasional Rumah Sakit Umum Tiar Medika, dibuat sebagai syarat untuk beroprasinya Rumah Sakit secara legal hukum dengan sarana–prasarana yang memadai, sesuai dengan peraturan  yang di keluarkan oleh pemerintah tentang Rumah Sakit Umum tipe D.
Rumah Sakit Umum Tiar Medika berdiri pada tahun 2012 yang diprakarsai Ketua Yayasan Tiar Family H.M. Anwar Asmali. Cita- cita luhur beliau ingin membantu masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.Adapun peletakan batu pertama dilakukan Rois Syuriah PBNU sekaligus Pengasuh Pondok Buntet Pesantren, KH. Adib Rodiudin Izza dan disaksikan Direktur Rumah Sakit Umum Tiar Medika dr. Tiar M Pratamawati.
Sejak putri pertama menginjakan perkuliahan di fakultas kedokteran, maka timbulah pemikiran untuk membangun sarana pelayanan kesehatan yaitu sebuah Rumah Sakit. Dengan pengembangan usaha dari CV. Tiar Family, dimulailah perwujudan cita–cita diatas membangun sebuah Rumah Sakit Umum  yang diberi nama Rumah Sakit Umum Tiar Medika. Nama Tiar merupakan singkatan dari Hj. Mulyati yang tak lain isteri HM. Anwar Asmali. Nama Tiar juga digunakan untuk perusahaan dan Yayasan Tiar Family.
Adapun fasilitas pelayanan kesehatan yang dibangun terdiri dari fasilitas Rawat Jalan, Unit Gawat Darurat, Penunjang Medis, Rawat Inap yang berkapasitas tempat tidur mencapai 65Tempat Tidur serta fasilitas umum kesehatan lainnya.Selanjutnya PT. Tiar Famili memberi kewenangan kepada Direktur Rumah Sakit Umum Tiar Medika untuk mengelola Manajemen Rumah Sakit yaitu dengan diangkatnya dr. Tiar M Pratamawati menjabat sebagai Direktur. Dari mulai sejak itu manajemen Rumah Sakit menata struktur organisasi Rumah Sakit untuk pengoperasian organisasi selanjutnuya yang berkesinambungan.Sejak putri pertama menginjakan perkuliahan di fakultas kedokteran, maka timbulah pemikiran untuk membangun sarana pelayanan kesehatan yaitu sebuah Rumah Sakit. Dengan pengembangan usaha dari CV. Tiar Family, dimulailah perwujudan cita–cita diatas membangun sebuah Rumah Sakit Umum  yang diberi nama Rumah Sakit Umum Tiar Medika. Nama Tiar merupakan singkatan dari Hj. Mulyati yang tak lain isteri HM. Anwar Asmali. Nama Tiar juga digunakan untuk perusahaan dan Yayasan Tiar Family.
 Info : "Signboard Advertising" , Sumber : http://tiarmedika.com/

Minggu, 31 Maret 2013

Info Sejarah Kabupaten Cirebon

Mengawali cerita sejarah ini sebagai Purwadaksina, Purwa Kawitan Daksina Kawekasan, tersebutlah kerajaan besar di kawasan barat pulau Jawa PAKUAN PAJAJARAN yang Gemah Ripah Repeh Rapih Loh Jinawi Subur Kang Sarwa Tinandur Murah Kang Sarwa Tinuku, Kaloka Murah Sandang Pangan Lan Aman Tentrem Kawontenanipun. Dengan Rajanya JAYA DEWATA bergelar SRI BADUGA MAHARAJA PRABU SILIWANGI Raja Agung, Punjuling Papak, Ugi Sakti Madraguna, Teguh Totosane Bojona Kulit Mboten Tedas Tapak Paluneng Pande, Dihormati, disanjung Puja rakyatnya dan disegani oleh lawan-lawannya.
Raja Jaya Dewata menikah dengan Nyai Subang Larang dikarunia 2 (dua) orang putra dan seorang putri, Pangeran Walangsungsang yang lahir pertama tahun 1423 Masehi, kedua Nyai Lara Santang lahir tahun 1426 Masehi. Sedangkan Putra yang ketiga Raja Sengara lahir tahun 1428 Masehi. Pada tahun 1442 Masehi Pangeran Walangsungsang menikah dengan Nyai Endang Geulis Putri Ki Gedheng Danu Warsih dari Pertapaan Gunung Mara Api.
Mereka singgah di beberapa petapaan antara lain petapaan Ciangkup di desa Panongan (Sedong), Petapaan Gunung Kumbang di daerah Tegal dan Petapaan Gunung Cangak di desa Mundu Mesigit, yang terakhir sampe ke Gunung Amparan Jati dan disanalah bertemu dengan Syekh Datuk Kahfi yang berasal dari kerajaan Parsi. Ia adalah seorang Guru Agama Islam yang luhur ilmu dan budi pekertinya. Pangeran Walangsungsang beserta adiknya Nyai Lara Santang dan istrinya Nyai Endang Geulis berguru Agama Islam kepada Syekh Nur Jati dan menetap bersama Ki Gedheng Danusela adik Ki Gedheng Danuwarsih. Oleh Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang diberi nama Somadullah dan diminta untuk membuka hutan di pinggir Pantai Sebelah Tenggara Gunung Jati (Lemahwungkuk sekarang). Maka sejak itu berdirilah Dukuh Tegal Alang-Alang yang kemudian diberi nama Desa Caruban (Campuran) yang semakin lama menjadi ramai dikunjungi dan dihuni oleh berbagai suku bangsa untuk berdagang, bertani dan mencari ikan di laut.
Danusela (Ki Gedheng Alang-Alang) oleh masyarakat dipilih sebagai Kuwu yang pertama dan setelah meninggal pada tahun 1447 Masehi digantikan oleh Pangeran Walangsungsang sebagai Kuwu Carbon yang kedua bergelar Pangeran Cakrabuana. Atas petunjuk Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah.
Pangeran Walangsungsang mendapat gelar Haji Abdullah Iman dan adiknya Nyai Lara Santang mendapat gelar Hajah Sarifah Mudaim, kemudian menikah dengan seorang Raja Mesir bernama Syarif Abullah. Dari hasil perkawinannya dikaruniai 2 (dua) orang putra, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sekembalinya dari Mekah, Pangeran Cakrabuana mendirikan Tajug dan Rumah Besar yang diberi nama Jelagrahan, yang kemudian dikembangkan menjadi Keraton Pakungwati (Keraton Kasepuhan sekarang) sebagai tempat kediaman bersama Putri Kinasih Nyai Pakungwati. Stelah Kakek Pangeran Cakrabuana Jumajan Jati Wafat, maka Keratuan di Singapura tidak dilanjutkan (Singapura terletak + 14 Km sebelah Utara Pesarean Sunan Gunung Jati) tetapi harta peninggalannya digunakan untuk bangunan Keraton Pakungwati dan juga membentuk prajurit dengan nama Dalem Agung Nyi Mas Pakungwati. Prabu Siliwangi melalui utusannya, Tumenggung Jagabaya dan Raja Sengara (adik Pangeran Walangsungsang), mengakat Pangeran Carkrabuana menjadi Tumenggung dengan Gelar Sri Mangana.
Pada Tahun 1470 Masehi Syarif Hiyatullah setelah berguru di Mekah, Bagdad, Campa dan Samudra Pasai, datang ke Pulau Jawa, mula-mula tiba di Banten kemudian Jawa Timur dan mendapat kesempatan untuk bermusyawarah dengan para wali yang dipimpin oleh Sunan Ampel. Musyawarah tersebut menghasilkansuatu lembaga yang bergerak dalam penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa dengan nama Wali Sanga.
Sebagai anggota dari lembaga tersebut, Syarif Hidayatullah datang ke Carbon untuk menemui Uwaknya, Tumenggung Sri Mangana (Pangeran Walangsungsang) untuk mengajarkan Agama Islam di daerah Carbon dan sekitarnya, maka didirikanlah sebuah padepokan yang disebut pekikiran (di Gunung Sembung sekarang)
Setelah Suna Ampel wafat tahun 1478 Masehi, maka dalam musyawarah Wali Sanga di Tuban, Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikan pimpinan Wali Sanga. Akhirnya pusat kegiatan Wali Sanga dipindahkan dari Tuban ke Gunung Sembung di Carbon yang kemudian disebut puser bumi sebagai pusat kegiatan keagamaan, sedangkan sebagai pusat pemerintahan Kesulatan Cirebon berkedudukan di Keraton Pakungwati dengan sebutan GERAGE. Pada Tahun 1479 Masehi, Syarif Hidayatullah yang lebih kondang dengan sebutan Pangeran Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyi Mas Pakungwati Putri Pangeran Cakrabuana dari Nyai Mas Endang Geulis. Sejak saat itu Pangeran Syarif Hidayatullah dinobatkan sebagai Sultan Carbon I dan menetap di Keraton Pakungwati.
Sebagaimana lazimnya yang selalu dilakukan oleh Pangeran Cakrabuana mengirim upeti ke Pakuan Pajajaran, maka pada tahun 1482 Masehi setelah Syarif Hidayatullah diangkat menajdi Sulatan Carbon membuat maklumat kepada Raja Pakuan Pajajaran PRABU SILIWANGI untuk tidak mengirim upeti lagi karena Kesultanan Cirebon sudah menjadi Negara yang Merdeka. Selain hal tersebut Pangeran Syarif Hidayatullah melalui lembaga Wali Sanga rela berulangkali memohon Raja Pajajaran untuk berkenan memeluk Agama Islam tetapi tidak berhasil. Itulah penyebab yang utama mengapa Pangeran Syarif Hidayatullah menyatakan Cirebon sebagai Negara Merdeka lepas dari kekuasaan Pakuan Pajajaran.
Peristiwa merdekanya Cirebon keluar dari kekuasaan Pajajaran tersebut, dicatat dalam sejarah tanggal Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Sakakala, bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijiriah atau 2 April 1482 Masehi yang sekarang diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Cirebon .
Sumber : http://www.cirebonkab.go.id/sekilas-kab-cirebon/sejarah-kabupaten-cirebon

Info Biro Reklame Billboard Advertising
0817-62-4455

Selasa, 26 Maret 2013

Advertising Cirebon News

Non-Commercial Use  Billboard

Not all billboards are used for advertising products and service- non profit group and government agencies use them to communicate with the public. In 1999 an anonymous person created the God Speaks billboard campaign in Florida "to get people thinking about God", with witty statements signed by God. "Don't make me come down there", "We need to talk" and "Tell the children that I love them" were parts of the campaign, which was picked up by the Outdoor Advertising Association of America and continues today on billboards across the country.
South of Olympia, Washington is the privately owned Uncle Sam billboard. It features conservative, sometimes inflammatory messages, changed on a regular basis. Chehalis farmer Al Hamilton first started the board during the Johnson era, when the government was trying to make him remove his billboards along Interstate 5. He had erected the signs after he lost a legal battle to prevent the building of the freeway across his land. Numerous legal and illegal attempts to remove the Uncle Sam billboard have failed, and it is now in its third location.One message, attacking a nearby liberal arts college, was photographed, made into a postcard and is sold in the College Bookstore.